Tugas Cerpen XI 4 (Lathifa Hasna Ramadhani)

 Terjalin, Terlepas, dan Tersambung Kembali


     Hawa dingin menyentuh kulit putih gadis berumur delapan belas tahun itu, di luar sedang hujan. Oh, gadis cantik itu paling suka meromantisasi hidup ketika hujan turun. Segera ia mengenakan dress putih dengan motif bunga, menata rambut coklat bergelombangnya, dan berulang kali mengecek penampilannya di depan kaca. Setelah merasa siap, ia turun ke lantai bawah mengambil payung favoritnya.

     Cklekk..

Ia memutar gagang pintu berwarna coklat itu, melangkahkan kaki keluar. Kakinya melompat-lompat kecil sambil bersenandung, melihat pemandangan sekeliling yang basah karena terkena air. Ia menengok ke langit dari balik teduhnya payung, sembari berpikir, “Ketika hujan ini turun, apakah orang-orang menikmatinya? Atau justru malah membencinya?”.

     Hujan turun semakin deras, kakinya berhenti melangkah. Ia tiba di sebuah danau, di tengah danau itu terdapat sebuah pohon besar yang sudah lama tumbuh di situ. Kabut putih mengelilingi danau, membuat hati gadis itu kegirangan. Ia melepaskan genggaman tangannya dari payung, seolah membiarkan jiwanya terbasuh oleh air hujan.

     Mashika, gadis penyuka hujan itu sudah menanti-nantikan hari ini. Jantungnya berdegup dengan kencang, napasnya memburu, tawanya tak berhenti bergema. Menurutnya, hujan adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan. Hujan bisa membawa kebahagiaan bagi setiap makhluk hidup.

     Ia terduduk, mengisi ulang energi yang telah ia habiskan. Tangannya mengadah ke langit, menampung air hujan yang turun. Di tengah kesibukannya bermain hujan, seketika perhatiannya buyar ketika ia melihat secercah cahaya dari arah danau. Bukan cahaya dari sinar matahari, cahaya itu muncul dari pohon besar di tengah danau.

    Mashika terkejut sekaligus penasaran, seperti terkena hipnotis, ia mendekati pohon tersebut. Ia menapaki batu-batu yang tiba-tiba muncul dari dalam danau, membantunya menuju ke tengah danau. Dari dekat, cahaya itu berbentuk seperti pusaran. Cahayanya sangat menyilaukan mata, Mashika tidak bisa memastikan dengan jelas apa yang ada di dalam pusaran itu.

     Iya atau tidak, Mashika ragu untuk menyentuh pusaran itu. Seperti ada yang menghasutnya, ia pun menyentuh pusaran itu– Mashika tersedot masuk, ia melewati terowongan yang menyilaukan. Mashika menutup matanya, dalam hatinya ia sangat ketakutan. Berpikir apa yang setelah ini akan terjadi padanya.



────୨ৎ────



     Kepala Mashika serasa di-blender, pusing sekali. Ia mencoba membuka kelopak matanya secara perlahan, pandangannya perlahan membaik. Matanya membelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, pemandangan yang sungguh menakjubkan. Rerumputan hijau nan luas, angin sepoi-sepoi, serta langit berwarna biru cerah menyapanya. 

     “Bodoh!”, Mashika menempeleng kepalanya sendiri. Sekarang bukan waktunya untuk melongo, ia tersadar bahwa ia berada di tempat yang asing. Dengan langkah tergesa-gesa, Mashika berlari menuruni bukit. Ia berusaha menuju ke sebuah rumah yang tertangkap oleh matanya.

     Rumahnya tidak dikunci, Mashika masuk sambil mengendap-endap. Suasana rumah yang nyaman membuat Mashika kembali tertidur. Namun, bau masakan yang menyeruak di hidungnya mengganggu tidur Mashika. Ia tidak bisa menolak, perutnya sudah keroncongan dari tadi.

    Ketika di dapur, ia menemui pria bertubuh besar dihiasi dengan otot. Pria itu tidak mengenakan baju, Mashika bisa melihat dengan jelas bekas-bekas luka goresan di seluruh tubuhnya. Takut– Itu yang ia rasakan saat ini. Sudah selangkah untuk melarikan diri, pria itu terlebih dahulu menyadarinya. 

     Pria itu meminta Mashika untuk kembali, duduk, dan makan bersama. Kali ini, pria itu sudah memakai bajunya. Ternyata, pria itu tidak seburuk yang Mashika pikirkan. Mashika bercerita kepada pria itu mengenai segala hal yang terjadi padanya. Betapa terkejutnya Mashika ketika mengetahui bahwa pria itu seumuran dengannya.

     Kini, Mashika ditimpa dengan fakta yang semakin membuat dirinya tambah pusing. Ia telah melintasi zaman lewat pusaran cahaya itu, sekarang Mashika berada di abad pertengahan awal. Ya benar, abad di mana pembunuhan menjadi hal yang lumrah. Mashika tak bisa berpikir jernih, ia gelisah ingin segera kembali ke pelukan Ibunya.

     Pria berambut kuning keemasan itu berusaha menenangkan Mashika, ia menyuruh Mashika tinggal bersamanya untuk sementara. Pria itu tinggal sendirian, orang tuanya tewas menjadi korban pembantaian desa. Walaupun sedikit terasa mengganjal, Mashika pasrah, sebab ia tidak tahu ingin kemana. Keputusan telah ditentukan, ia akan tinggal di sini sembari memikirkan bagaimana cara untuk kembali.

     “Mashika!!”, pria itu berteriak dari arah ladang gandum, Mashika pun berlari mendekat. Rupanya, pria itu meminta bantuan Mashika untuk memanen gandum yang sudah menguning. Pria itu mengajari Mashika bagaimana cara menebas batang gandum. Katanya jangan terlalu pendek, nanti sisanya akan dimakan oleh kuda-kuda peliharaan warga desa. 

    Matahari sudah berada di ujung barat, Mashika menyeka keringatnya. Ia teringat kepada Ibunya, “Ibu pasti sangat khawatir kepadaku, tunggu aku kembali ya, Bu.”. Pria berotot kekar itu menepuk pundak Mashika, memberi sinyal agar segera kembali ke dalam rumah. Ia berjalan dengan lesu dengan matanya yang sembab.

    Hari berikutnya, pria itu mengajak Mashika untuk pergi ke pasar menjual hasil panen gandumnya. Mashika masih murung, pria itu bingung harus melakukan apa. “Anu, begini..”, pria itu menggaruk lehernya canggung. “Bagaimana kalau setelah ini saya antarkan kamu ke bukit. Barangkali ada sesuatu yang bisa membuat kamu kembali.”, Mashika mengangguk dan tersenyum, dia setuju. 

     Sesuai janjinya, pria itu membawa Mashika ke atas bukit. Mashika ingat sekali, bahwa ia berada di bawah pohon besar saat pertama kali sampai di sini. Sangat disayangkan, tidak ada apa-apa di sana. Mashika menggerutu kesal, kakinya menendang-nendang rumput geram. 

     Langit perlahan menggelap, angin berhembus kencang, sepertinya akan turun hujan. Pria itu mengisyaratkan Mashika untuk kembali, Mashika hanya diam. Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari belakang mereka. Spontan mereka menengok ke belakang, ada sedikit cahaya yang keluar dari pohon itu. Itu berarti, masih ada jalan untuk bisa kembali

     Mashika kegirangan, ia melompat-lompat sambil tertawa. Ia melompat terlalu kencang, hingga kakinya tak dapat memijak tanah dengan benar. Benar saja, kakinya keseleo, seketika Mashika berteriak kesakitan. Pria itu sigap mendekati Mashika, ia juga ikut khawatir.

     Terpaksa, pria itu harus menggendong Mashika ala bridal style. Mashika yang awalnya hanya meringis kesakitan, kini matanya tertuju pada pria yang sedang menggendongnya. Menatapnya begitu lama, bertanya dalam hati mengapa bisa sangat nyaman di gendongannya. Mashika mengalihkan pandangannya ketika pria itu berbalik melihatnya. 



────୨ৎ────



     Kondisi kaki Mashika berangsur-angsur membaik. Kali ini ia berniat untuk membuatkan pria itu sebuah apple pie sebagai tanda terimakasih karena sudah merawatnya. Dari kecil, Mashika sangat menyukai bidang pastry, tangannya mengulet adonan dengan sangat lihai. Untuk rasanya tidak usah diragukan, pasti sangat enak.

     “DORR!!”, Mashika tersentak kaget. Ia menengok kesal kepada orang di belakangnya itu, pria berotot itu sangat jahil kepadanya. Mashika tidak memperdulikannya, ia kembali fokus kepada adonannya. Menanggapi hal itu, otak jahil pria ini tak berhenti berpikir. Dengan secepat kilat, tangannya mencolek tepung dan mengusapnya di hidung Mashika dengan gemas. Mashika tidak tinggal diam, ia membalasnya dengan melempar tepung ke wajah pria itu. Mereka berdua tidak ingin kalah, sekarang mereka berlumuran tepung dari atas sampai bawah. Mereka saling bertatapan, tawa mereka pecah saat saling melihat penampilan yang acak-acakan satu sama lain.

    Apple pie yang Mashika buat sudah matang, pria jahil itu sudah tidak sabar untuk menyantapnya. Suapan pertama, pria itu terkejut, rasanya sangat enak sekali. Ia langsung memuji Mashika, tersenyum sampai matanya menjadi sipit karena saking senangnya. Entah mengapa Mashika merasa ada rasa yang aneh di dalam hati mungilnya ketika melihat pria besar itu tersenyum.

   “Mashika!”, pria itu menahan langkah Mashika.”Malam ini apakah kamu mau saya ajak pergi jalan-jalan?”, Mashika agak ragu, tidak seperti biasanya ia diajak jalan-jalan. Karena tidak enak untuk menolak, ia menerima ajakan pria itu. “Bersiaplah, d-dandan yang cantik, ya?”, Mashika tidak menoleh ke belakang, ia hanya mengangguk kecil lalu pergi.

    Mashika mengenakan dress putih dengan motif bunga seperti saat pertama kali ia datang ke sini. Ia merasa sangat gugup, tangannya berkeringat dingin. Kalau diingat-ingat, ini adalah kali pertamanya keluar berduaan di malam hari dengan seorang pria. Ibunya selalu melarangnya, sebab takut akan terjadi hal yang tidak mengenakkan kepada anaknya.

     Pria itu sudah menunggu Mashika di depan rumah. Mashika menepuk pundaknya dari belakang, pria itu menoleh, menatap agak lama ke arahnya. Mashika menjentikkan jarinya di depan pria itu, seketika lamunannya buyar. Mereka berdua jalan beriringan, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, segera Mashika jauhkan tangannya dari pria itu.

    Mereka berdua tiba di padang rumput yang dihiasi dengan langit bertaburkan bintang. Mashika tidak pernah melihat bintang-bintang yang berkilauan sejelas ini sebelumnya. Pria itu sekarang berada di samping Mashika, Mashika mengalihkan pandangannya ke wajah pria itu. Ia menyadari satu hal, hujan bukan satu-satunya anugerah terindah dari Tuhan. 

     Mashika memandanginya terlalu lama, hingga akhirnya mereka saling beradu mata. Lewat mata yang berwarna hijau itu, Mashika melihat banyak hal yang tidak bisa diungkapkan. 

     “Mashika..”, pria itu agak gemetar kali ini.

“Kenapa kamu mau bersama saya selama ini?”

“E-eh..?”

“Apakah karena saya telah menyelamatkan kamu? Atau karena saya sudah kamu anggap keluarga?”

“Ehh.. Hah??”, Mashika hanya mematung. 

“Saya ini apa bagi kamu?”

“Kamu.. Kamu aku anggap keluarga.”, raut pria itu langsung berubah, Mashika tidak bisa untuk melihatnya. Mashika langsung pergi dari sana, berlari secepat mungkin.

     Mashika berlari sambil menangis sesenggukan, ia telah berbohong, kepada pria itu dan hatinya sendiri. Ia tidak bisa mengatakan apa yang ada di dalam benaknya, ia ingin tetapi tidak bisa. Ia harus kembali kepada Ibunya, akan sangat egois jika hanya memikirkan perasaannya saja. Di sisi lain, ia sangat– sangat ingin bersama pria itu.

     Mashika segera berlari menuju kamar, ia menangis di tempat tidur. Bagaimanapun caranya, ia harus cepat pergi dari sini. Pria itu pasti sangat kecewa kepadanya, Mashika tidak boleh terlalu lama mengganggunya seperti ini. Karena menangis, energi Mashika terkuras, ia terlelap dalam tidurnya.

     Suara bising tertangkap oleh telinganya, Mashika melihat ke jendela. Langit masih gelap, hujan turun dengan derasnya. Tapi, yang terdengar bukan hanya suara hujan saja, ada suara gaduh yang lain. Tepat saat ia membuka pintu, pria itu muncul dari depan, tampangnya terlihat panik. 

     “Cepat pergi dari sini, desa telah diserang. Pergi ke bukit sekarang, cari portal cahaya itu! Segera kembali lah!”, Mashika tidak banyak bicara, tapi ia enggan untuk pergi. Bagaimana jika pria itu terbunuh? Mashika ingin mengajak pria itu, tapi pria itu menolak. Ia khawatir dengan penduduk desa, sebilah pedang di tangannya membuktikan bahwa ia ingin menyelamatkan penduduk desa. 

     Mashika tetap saja berdiri di situ, sudah tidak ada waktu, “CEPAT PERGI ATAU SAYA BUNUH KAMU!!”, Mashika ketakutan. Baru pertama kali ia melihat raut wajahnya yang seperti itu. Mashika lari terbirit-birit, menerobos air hujan yang jatuh di tubuhnya. 

     Dari atas bukit, Mashika bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa api sedang membakar desa di tengah guyuran hujan yang deras. Ia tidak bisa melakukan apapun, portal cahaya sudah menunggunya dari tadi. Mashika menyadari pemicu portal itu adalah hujan, fenomena ini terjadi seratus tahun sekali. Mashika mendengar legenda itu dari penduduk sekitar desa.

     Portal cahaya itu semakin menyempit, waktu Mashika tidak banyak. Ia hanya bisa pasrah, ia kembali tersedot ke dalam portal cahaya itu, “Maafkan aku.”, pandangan Mashika kembali mengabur.



────୨ৎ────



   “NOELL!!”

Mashika berteriak kencang. Ia merasa sedang berbaring di kasur yang empuk, sangat hangat dan lembut. Ia perlahan membuka matanya, seperti tidak asing dengan ruangan ini. Benar, sekarang ia berada di kamarnya sendiri, di rumahnya. 

     “Nak, kamu sudah bangun?”, Ibu Mashika masuk ke dalam kamar, memegang tangan Mashika. Tangis Mashika langsung pecah, ia berpelukan dengan Ibunya. Rasanya sangat nyaman, sudah lama tidak memeluk Ibunya seperti ini.

     Ibu Mashika bercerita, bahwa Mashika ditemukan di bawah pohon besar di tengah danau itu. Mashika hilang selama tiga hari, seorang nenek yang tidak sengaja lewat di danau itu menemukan Mashika pingsan. Mashika tidak bisa mencerna semua hal yang terjadi padanya. Ia berada di zaman abad pertengahan awal itu selama sebulan, tapi ditemukan tiga hari di dunia nyata? Apakah selama ini ia hanya bermimpi?

     Tidak, Mashika yakin bahwa Noel–pria bertubuh besar, berotot, berambut pirang keemasan, dan bermata hijau itu benar-benar ia temui. Ia masih menyimpan sapu tangan yang terdapat sulaman inisial ‘NJ’ yang tertera di sapu tangan itu. “Noel Justus”, Mashika mengelus sapu tangan itu. Bayang-bayang Noel masih terpampang jelas di benaknya.

     Rasa yakin Mashika sangat besar. Ia memutuskan untuk menunggu Noel datang kepadanya. Setiap musim hujan turun, Mashika akan membawa apple pie buatannya dan pergi ke danau itu. Setiap hari ketika hujan turun, selama sepuluh tahun lamanya. Mashika masih di sini, dengan perasaan yang sama.

     “Noel, kali ini aku bawakan apple pie kesukaanmu dengan apel yang lebih banyak, loh.”, tubuh Mashika bergetar, tak kuat menahan tangis. Ia tidak bisa menikmati hujan lagi setelah kejadian sepuluh tahun yang lalu. Ia malah berbalik membenci hujan. 

     Mashika kembali pulang dengan tangan kosong, harapan yang tidak pernah dipenuhi. Hujan sedikit mereda, cahaya matahari tersingkap dari balik awan hitam. Mashika mengangkat bokongnya dari kursi, berjalan dengan langkah gontai. Terdengar suara samar dari jauh, tapi Mashika tidak menggubrisnya.

     “MASHIKAA!! MASHIKAA!!!”, suara khas itu. Mashika menengok ke arah pohon besar, ia tidak percaya. Perawakan yang tidak berubah itu. Seseorang itu mendekati Mashika, berlari dengan kakinya yang panjang. Mashika membuka kedua lengannya lebar-lebar, siap menangkap orang itu.

     Mereka berdua berpelukan, pelukan yang sangat erat. Pelukan yang sudah lama mereka berdua rindukan.

     “Noell.. Noell, aku merindukanmu!”, Mashika menyentuh wajah Noel dengan kedua tangannya yang gemetar. Seolah masih tidak percaya bahwa Noel ada di depannya sekarang. Tangis Mashika tak bisa dibendung, ia sangat bahagia.

     “Mashika, maaf membuatmu menunggu terlalu lama.”, Noel memeluk Mashika, mengelus rambut coklat bergelombangnya.

     “Ayo kita pulang, kita makan apple pie buatanku bersama-sama, ya?”

Senja turut menyertai cerita mereka berdua. Memang pertemuan yang singkat, tapi takdirlah yang memperkuat. Penantian panjang telah terbayarkan, tak ada lagi rasa khawatir di antara mereka. Noel menggenggam erat tangan Mashika, seolah tak ingin ada yang memisahkan mereka lagi, walaupun dimensi sekalipun.



Perlahan mulai bergabung dan membentuk sesuatu, lalu diputar dan dijalin. Kadang bisa saja terpisah, terlepas lalu tersambung kembali itulah ‘musubi’.

    


────୨SELESAIৎ────

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Membuat 5 Pantun

Syair Burung Pungguk

Tugas Teks Laporan