Teks Narasi Imajinatif

 

Musim Panas Akari



   Dari kejauhan sana, harmoni antara hamparan laut dan birunya langit cerah tak pernah gagal menguasai keindahan musim panas. Tetapi lain kata dengannya, Sora lebih menyukai melihat bunga cosmos bermerkaran dari balik jendela kamarnya. Tak sekalipun dirinya ingin merasakan teriknya cahaya matahari menyengat kulitnya. Hanya saja ia sediakala membiarkan rambut hitamnya terurai, terbelai oleh angin musim panas ketika duduk di jendela lantai dua rumahnya. Ia bersenandung pelan beriringan merdu dengan lonceng angin.

   Kendati, Sora hanya bergumam bosan berada di dalam rumah. Tak lama matanya menangkap pohon persik yang berbuah lebat di atas bukit. Sora bukan tipikal orang yang mudah tertarik, apalagi pada sesuatu yang tak ia pahami. Namun, ia tertarik pada sebuah kalung dengan liontin merah yang tergantung di dahan pohon persik itu.

   Dalam hening jarak liontin merah itu berkilau lembut, seperti detak jantung yang tertahan. Tanpa benar-benar menyadari keputusannya, Sora turun ke halaman.


"Cantik.." ketika jemarinya menyentuh liontin itu, udara di sekelilingnya seolah menghangat.


   Sora membawa pulang kalung itu. Ia meletakkannya di meja dekat jendela, tepat di samping lonceng angin. Malamnya, untuk pertama kali setelah sekian lama, Sora bermimpi begitu jelas.

   Ia melihat pemilik kalung itu—Akari. Akari adalah seorang anak kecil yang dibesarkan dalam rumah yang rasanya tak pernah seperti rumah. Ayahnya hanya sering pergi berselingkuh dan pulang dengan amarah. Ibunya tenggelam dalam minuman, tak pernah benar-benar melihatnya. Akari tumbuh dengan sunyi, menyimpan kalung itu sebagai satu-satunya benda yang membuatnya merasa aman. Hingga suatu malam, pertengkaran berubah menjadi kekerasan. Setelah itu, Akari menghilang dan tak pernah ditemukan.

   Sora bangun dengan napas tercekat. Mimpi mengerikan itu mulai menuntun Sora untuk kembali ke bukit tempat ia menemukan kalung itu. 


   "Akari.. Tunggu aku.."


   Matahari menyinari dari sisi timur, dengan keberanian yang tak ia kenali sebelumnya, Sora melangkahkan kaki menuju bukit. Sora menggali perlahan. Tak lama, sekop kecilnya membentur sesuatu yang keras. Ia berhenti, seakan dunia menahan napas bersamanya.

   Sora menutup mata, air mata jatuh tanpa suara. Tak ada darah, tak ada luka yang bisa dilihat jelas. Di sana hanya terdapat jasad terbungkus kain yang telah lapuk oleh waktu. Di sampingnya, ada liontin merah yang sama.

   Sora telah menemukannya. Berita tentang kasus hilang yang selama ini menggantung menemui jawaban. Nama pemilik kalung itu kembali disebut, kali ini bukan sebagai orang yang lenyap, melainkan sebagai seseorang yang pernah ada.

   Sora pulang dengan hati tenang. Dari jendela kamarnya, lonceng angin berdenting. Di bawah pohon persik, angin berembus lembut, seolah mengucapkan terima kasih.



—Tamat—

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Membuat 5 Pantun

Syair Burung Pungguk

Tugas Teks Laporan